Jumat, 10 Maret 2017

Semata-mata Pendapat Pribadi

Lama sekali tidak menulis, rasanya kikuk, semakin tua realitas jadi kurang menarik, atau ini hanyalah pesimisme yang dikandung usia, kegetiran atau amarah. Penulisan posting ini dilatarbelakangi oleh upaya meyalakan api semangat untuk menulis dalam masa-masa penggarapan skripsi dan nostalgia pada cita-cita menjadi penulis yang mana membuat saya tersenyum sendiri menyadari begitu cepatnya waktu berlalu, begitu cepatnya diri seseorang berubah, begitu drastis. Sementara di Jakarta hujan mulai rajin berkunjung, Februari kemarin saya mengunjungi Teheran dan terkejut pada hawa dinginnya yang menusuk, banyaknya polisi yang berjaga di seputaran kota, dan penutupan beberapa jalan utama. Saya mencari stasiun metro karena biasanya metro merupakan moda transportasi yang paling ramah turis, sementara semua tanda dan tulisan dalam bahasa Persia. Saya menuju stasiun Teater Kota dan mendapati rangkaian manusia keluar dari pintunya, menghambur ke sepanjang jalan di depannya, dan bergabung dengan barisan demonstran anti Israel-Amerika. Sepertinya Jumat itu hari spesial warga Iran dimana hampir semua kota melakukan demonstrasi yang sama. Saya sendiri kurang mengikuti politik negara itu namun saya tahu tentang isu nuklir dan adanya sanksi Amerika, sedangkan Israel tentu saja menjadi musuh besar umat islam terkait isu Palestina. Islam syiah merupakan mayoritas keyakinan warga Iran namun merupakan minoritas dalam lingkup umat muslim dunia, dan setahu saya di Indonesia banyak mendapat pertentangan dari kalangan konservatif Sunni. Tentu saja saya tidak ikut berjamaah dalam sholat mereka karena ada perbedaan yang cukup signifikan namun saya tetap melakukan sholat di dalam masjid-masjid mereka yang indah dan mereka menerima saya dengan tangan terbuka. Terlepas dari kehidupan syiah mereka yang unik, Iran memiliki situs-situs kuno yang secara mengejutkan menarik seperti Imam Square di Isfahan atau Persepolis di Shiraz.

Imam Square

Imam Mosque

Persepolis


Dari Iran saya melanjutkan perjalanan ke Turki yang berbatasan darat. Pada mulanya saya berencana untuk mencapai Turki lewat jalur darat namun adanya konflik Kurdistan dan konflik Suriah membuat saya mengurungkan niat tersebut. Saya terbang ke Ankara dan terpesona pada arsitektur sebuah masjid yang berdiri megah tak jauh dari bandara yang mana setelah mengunjungi beberapa kota di Turki baru kemudian menyadari bahwa hampir semua masjidnya memiliki arsitektur serupa. Saya mengunjungi museum Mevlana di Konya yang merupakan makam dari Rumi, seorang tokoh Sufi terkemuka, melayang dengan balon udara meratapi salju dan bebatuan aneh di Cappadocia, mengelilingi reruntuhan peradaban romawi di Pamukkale, dan tentu saja mengenang kejayaan Islam pada masa kesultanan Ottoman di Istana Topkapi. Saya mengenal Istambul dari karya-karya Orhan Pamuk, dan mencoba merasakan huzun dari kota cantik itu, apa yang Pamuk gambarkan sebagai kesenduan, ditemani dingin angin bulan Februari menyeberangi Bosporus menyaksikan kapal-kapal yang berlayar dan warga lokal yang sedang memancing di atas jembatan. Berjamaah di masjid-masjid Turki yang cantik, saya menyadari beberapa perbedaan detail gerakan sholat yang tidak terlalu signifikan, dikarenakan perbedaan mahzab dalam islam sunni.

konya

Cappadocia

Pamukkale

Istambul


Negara terakhir yang saya kunjungi adalah Mesir. Kudeta pada 2013 masih menunjukkan luka pada masyarakatnya dengan keadaan ekonomi yang belum membaik. Di Kairo beberapa pihak mencoba memanfaatkan turis dengan penipuan, penggelembungan harga yang keterlaluan, atau permintaan tip untuk jasa yang tidak dibutuhkan. Keadaan tersebut menjadi bagian dari “pengalaman Mesir” yang sudah sering diperingatkan dalam situs-situs perjalanan, walaupun di kota-kota lain yang lebih kecil hal semacam itu relatif lebih jarang terjadi. Kairo sendiri dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan sastra arab dan pengkajian islam sunni dengan universitas Al-Azhar-nya yang merupakan salah satu universitas tertua di dunia. Banyak pelajar Indonesia yang berkuliah di universitas tersebut dan beberapa alumninya menjadi baik ulama atau tokoh politik islam di Indonesia.


Cairo

Mengunjungi negara-negara islam tersebut tentu saja menambah wawasan saya tentang sejarah islam, walaupun tak banyak. Hal yang paling membuat nyaman adalah mudahnya menemukan masjid, sama seperti di Indonesia, sehingga saya tidak mengalami kesulitan jika mau melakukan sholat, selain ikatan agama yang membuat saya merasa di tengah saudara. Terlepas dari syiah maupun sunni ketiga negara tersebut memiliki satu persamaan--sama-sama pernah mengalami gejolak antara pihak konservatif dengan pihak moderat; revolusi islam Iran yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeni pada tahun 1979, kepemimpinan presiden Erdogan yang merupakan pahlawan dari kalangan konservatif, dan kudeta presiden terpilih Mesir Mohamed Morsi yang berasal dari partai konservatif. Kritik pada agama yang dianggap menjadi sumber konflik pada dasarnya adalah kritik terhadap peradaban atau manusia itu sendiri. Tanpa agamapun, dengan komunisme atau ultranasionalisme misalnya, perang dapat diletuskan. Ketika kembali ke Jakarta dan saya masih mendapati kasus Ahok yang belum mereda, saya menemukan kesamaan karakteristik perseteruan tersebut walaupun dalam skala yang berbeda pastinya; gejolak antara pihak konservatif dan moderat.

Tentu saja mengunjungi tiga negara islam tidak serta merta membuat saya memahami sejarah islam yang panjang dan rumit sementara saya sendiri masih harus menunggu belasan tahun untuk melakukan ibadah haji dikarenakan antrean, mengunjungi Arab Saudi yang menjadi rujukan dari pelaksanaan islam konservatif. Tentu saja tulisan ini hanya merupakan pendapat pribadi dan tidak bermaksud menyinggung siapapun. Penistaan agama yang diduga dilakukan Ahok yang diamini oleh Majelis Ulama Indonesia memiliki dimensi yang lebih luas karena kebetulan Ahok seorang non muslim dan beretnis cina. Dibantu oleh media sosial konflik ini menjangkau lebih banyak orang, lebih jauh. Dapat dikatakan secara umum konflik ini membagi bangsa menjadi dua kubu, sama seperti di Amerika paska pemilu yang dimenangkan oleh Donald Trump. Pertanyaan besarnya adalah apakah islam memperbolehkan pemimpin pemerintahan dari kalangan non muslim dan pertanyaan tersebut mengarahkan saya pada gejolak antara pihak islam konservatif dan moderat. Islam konservatif memiliki cara penafsiran ayat-ayat Al Quran yang berhati-hati dan cenderung secara harfiah sementara yang moderat agak fleksibel dengan mempertimbangkan konteks dan jaman.

Sisi baik dari konflik ini adalah saya pribadi jadi ingin lebih mendalami Al Quran dan isu pluralisme paling tidak mulai dibicarakan secara luas. Saya sendiri memahami dan menghormati niat suci dari kaum konservatif yang berusaha menjaga kemurnian agama dengan meminimalisasi pemikiran pribadi, dan dengan alasan tersebut juga saya menjaga jarak dengan konservatisme karena tidak memberikan ruang untuk kritik dan spiritualitas pribadi dikarenakan kebenaran yang bersifat mutlak walaupun pada akhirnya masing-masing pribadi yang akan mempertanggungjawabkan diri di hadapan Tuhan. Terlepas dari pendapat pribadi saya tersebut yang cenderung moderat atau bahkan liberal, dalam sistem demokrasi pada akhirnya mayoritas yang akan menang dan islam konservatif yang mulai mendapat banyak dukungan akan memberikan warna baru dalam politik Indonesia ke depan yang selama ini didominasi oleh kaum nasionalis. Saya tidak akan heran jika Ahok atau Ahok-Ahok berikutnya tidak akan pernah memenangkan pemilihan umum selama isu agama dikemukakan, bahkan Amerika sendiri sebagai guru demokrasi dunia di akhir tahun 2016 menafikan kemungkinan memiliki presiden perempuan pertamanya dan malahan merayakan kampanye kebencian terhadap kaum minoritas. Niscayakah sebuah rekonsilisasi antara kaum moderat dan konservatif? Ide semacam itu lebih terdengar surgawi sementara kaum konservatif hanya percaya bahwa rekonsiliasi hanya bisa terjadi dalam surga mereka sendiri.

Pada dasarnya isu ini bukan masalah besar bagi saya pribadi, dikarenakan ada dua masalah besar yang sedang saya hadapi saat ini yaitu: penulisan skripsi dan menjawab pertanyaan “kapan nikah?”

Rabu, 01 Juli 2015

Tanah yang Terberkati Ini

Sebuah perjalanan panjang dan pada akhirnya malam turun menyelimuti kota asing yang terasa familiar ini. Sopir travel menurunkanku di sebuah persimpangan jalan, mengeluh mengapa tidak dari tadi aku menyebutkan tujuanku karena dari tempatku sekarang kami harus memutar jauh. Dia menunjukkan papan reklame sebuah merk bir yang diterangi lampu temaram; East Timor Backpackers, sebuah penginapan murah yang populer di Dili. Aku lega sang pemilik bisa berbahasa indonesia. Aku lega bahasa bukanlah kendala besar di negara baru ini. Aku hanya takut persepsi orang-orang Timor-Timur tentang orang Indonesia. Aku mencoba membaca mata mereka yang menangkap bayanganku, berpakaian turis dengan celana surfing warna-warni, duduk di bangku angkotnya yang terlalu tinggi. Dari sebuah situs perjalanan disebutkan untuk menghindari pertanyaan tentang terpisahnya negara ini dari negaraku karena akan membangkitkan luka lama. Aku sendiri kurang tertarik pada politik. Aku masih ingat dari buku pelajaran SD-ku di tahun 1990-an bahwa negara ini masih merupakan sebuah provinsi dari Indonesia, provinsi ke-27, provinsi terakhir ketika itu, yang berhasil direbut dari Portugis pada 1975.



Ketakutanku berasal dari cerpen-cerpen dalam kumpulan Saksi Mata yang kubaca ketika masih SMA dan masih terobsesi dengan penulisnya, Seno Gumira Ajidarma, atau film Balibo yang aku tonton bertahun-tahun kemudian yang menceritakan tentang pelanggaran hak asasi manusia oleh militer Indonesia di masa orde baru. Aku tahu ada beberapa gerakan separatis di negaraku seperti di Maluku atau Papua, ataupun di negara-negara lain. Hampir enam tahun aku tinggal di Flores dan ikut merasakan lambatnya pembangunan atau ketimpangan. Aku bisa merasakan rasa nasionalisme-ku perlahan luruh, apalagi jika akses pendidikan, kesehatan, atau makanan buruk.




Keesokan harinya aku berjalan di sepanjang Almirante Americo Tomas, merasakan hawa panas daerah pantai yang  gerah. Aku berniat menyewa motor namun bahkan sampai di Timor Plaza aku tidak menemukan satu pun rental. Aku memutuskan naik angkot menyeberangi jembatan comoro sampai ke patung di depan gapura bandara. Baru setelah kembali menyeberangi comoro aku menemukan sebuah rental motor di bawahnya namun sudah tutup. Aku menghabiskan malam di Timor Plaza dengan makan dan nonton film. Baru esoknya aku menyewa motor dan mengelilingi kota Dili yang kecil. Aku terkejut betapa dekatnya pantai dari tempatku menginap. Aku menyusuri jalan di tepi pantainya yang panjang, berhenti ketika melihat sebuah mercusuar, kemudian duduk menatap ombak di kejauhan. Aku terkejut pada pantainya yang luar biasa tenang. Melewati istana presiden, taman dengan tempat duduk yang menghadap laut, resto-resto yang mulai berjejer, aku terus menuju ujung teluk tempat dimana patung Yesus yang tinggi menjulang. Tepat di bawah patung itu terhampar sepasang  pantai  yang cantik. Ariea Branca, pantai yang lebih ramai adalah pintu masuk untuk menaiki bukit menuju patung Yesus. Aku menyusuri anak tangga demi anak tangganya yang tidak sedikit namun rimbunanya pepohonan di sekitar membuat pendakian tersebut lebih terkesan diberkati, apalagi ketika sudah sampai di halaman luas satu lantai di bawah patung Yesus. Kebetulan hari itu hari Minggu banyak peziarah berkumpul di beberapa sudut mendengarkan khotbah. Khotbah di atas bukit tepat di bawah patung Yesus. Sempurna, sementara aku berbaring di salah satu bangkunya memandangi kilauan cahaya matahari siang yang menerobos dedaunan sebatang pohon tanpa nama hingga jatuh tertidur dan bermimpi tentang sekuntum cinta tanpa nama.








Ternyata masih ada anak tangga yang bisa didaki untuk mencapai patung Yesus itu. Dari puncak bukit aku bisa melihat ujung teluknya dan lautan mahaluas. Aku juga bisa melihat dua pantai yang berbeda sisi itu sekaligus. Patungnya sungguh-sungguh megah dan tinggi dan aku merasa terberkati berdiri di bawahnya, di tanah asing yang dulu adalah tanah yang sama. Aku jadi memikirkan kemungkinan berpisahnya provinsi-provinsi lain di Indonesia yang merasa dikecewakan. Aku mungkin takkan terlalu perduli dan akan melakukan perjalanan yang sama, ke negara Maluku, Nusa Tenggara Timur, atau Papua, sepanjang stempel di buku pasporku bertambah.




Matahari perlahan turun dan aku turun menuju cape fatucama, pantai yang lebih sepi. Ketika itu terdapat kerumunan yang berkumpul sambil membakar ikan. Pasirnya putih. Tak tahan pada jernih airnya aku berenang di dalamnya, bersama kesendirian yang telah menjadi sahabat karibku cukup lama. Aku terengah-engah, kelelahan sendiri, berendam di sebuah pantai asing yang hangat sambil menatap barisan bukit yang memesona, di bawah langit yang sama, matahari yang sama, tak henti-hentinya merasa terberkati memandangi patung Yesus di ujung teluk. Aku hanya bisa tersenyum, setengah sedih karena belum menemukanmu juga, setengah bahagia karena hingga aku bosan dengan kesendirian ini aku akan merayakan hidup berdua denganmu nanti, akan kuceritakan tempat-tempat asing yang membuatku memikirkanmu terus-menerus ini hingga kamu jatuh bosan dan mengajakku mengunjungi tempat-tempat baru yang belum pernah kutuju.




Selasa, 17 Maret 2015

Tembok Hati

Minus tiga derajat, begitu informasi suhu yang disampaikan sebelum mendarat. Ruteng cukup dingin, aku akan mampu bertahan, kenapa tidak, hatiku adalah himalaya, dingin abadi yang merindu hangatnya cinta. Lewat tengah malam ketika itu, waktu yang tepat untuk bermimpi tentang cinta, dan aku tidur di kursi tunggu bandara menunggu esok hari yang tak pasti, seperti hidup itu sendiri. Semua orang berbahasa asing. Semua tulisan adalah simbol. 

Esoknya aku memesan sarapan di KFC dan berkenalan dengan kesalahpahaman untuk pertama kali; sang pelayan memberiku dua porsi, hari berikut aku malahan membuka jaket padahal hanya disuruh berbalik badan, kemudian hari-hari berikutnya kesalahpahaman yang lain. Aku tersesat dalam bahasa, namun aku menikmatinya, seperti aku menikmati masih tersesat mencarimu dalam permainan petak umpet yang dinamakan cinta. Dari bandara aku naik metro menuju stasiun terdekat dengan penginapan yang sudah kupesan online hingga pada akhirnya aku berkeliaran seorang diri di jalanan Beijing merasakan dingin bulan Februari yang menusuk. Tahun baru cina sebentar lagi. Tanganku membeku tanpa sarung tangan. Seperti seekor beruang kutub, hatiku menemukan habitatnya.




Sorenya aku berniat menuju lapangan Tiananmen untuk ikut tur yang ditawarkan di sana namun aku berakhir di bagian kota terlarang dimana terpampang lukisan Mao Zedong di pintu gerbangnya, sosok yang kemudian kutemukan juga di kota-kota lain. Sepertinya beliau adalah Soeharto-nya Cina, semacam bapak pembangunan. Kota terlarang cukup luas, aku hanya berjalan lurus ke depan melewati gerbang demi gerbang, menyeberangi halamannya yang luas, dan terpukau pada masa lalu. Di tempat itu aku mencoba selfie dengan tongkat narsis untuk pertama kalinya. Keluar dari kota terlarang aku mengunjungi taman di seberang jalan untuk menaiki sebuah bukit menuju pavilion di puncaknya yang dari sana aku dapat melihat penjuru Beijing yang terlihat sendu dalam musim dingin. Keluar dari taman itu tiba-tiba aku memasuki istana musim dingin dengan stupa besar di puncak bukit. Aku membeli jus buah yang baru aku lihat pertama kali dan duduk di salah satu bangku taman memandangi danau yang setengah membeku dan matahari sore yang oranye yang berkilauan di atas sebuah jembatan yang dihiasi lampion warna merah. Perahu-perahu terabaikan di salah satu sudut sementara burung-burung berjalan di bagian danau yang membeku. Aku jadi memikirkan hatiku yang terabaikan dan beku. Pada malam harinya aku tersesat dan berjalan cukup lama hingga merasakan nyeri di sendi kakiku. Lusanya pada akhirrnya aku bisa mengunjungi lapangan Tiananmen yang ketika itu berkabut, entah karena musim dingin atau polusi. Aku terkejut mendapati sedikitnya orang di dalamnya. Aku menyesal belum bisa melihat stadion sarang burungnya yang super keren yang dipakai ketika Olimpiade 2008, kuil langitnya yang indah yang bahkan tidak terlalu jauh dari Tiananmen tempatku berdiri ketika itu, atau tempat-tempat lain yang sering kulihat di film-film kungfu karena aku harus mengejar kereta peluru super cepat menuju Taiyuan untuk kemudian menuju Xian tempat dimana museum prajurit terakota berada. Ketika itu menjelang tahun baru cina dan semua tiket kereta telah habis. Di depan loket tiket kereta berbahasa dan bertuliskan cina aku hanya mengangguk bingung ketika penjaganya menyebutkan beberapa kata. Kereta apa saja. Kapan saja. Asal ada cinta yang menggerakan gerbong-gerbongnya yang dingin dan sunyi seperti hatiku yang terasa berat di dalam rongga dada ini.











Satu hari sebelum meninggalkan Beijing aku menuju stasiun utara dan memesan tiket menuju Badaling. Stasiunnya besar dengan para penjaga dalam seragam jubah musim dingin yang menambah kesan menyeramkan dari mereka. Setelah pintu antrian dibuka kami berhamburan menuju gerbong kereta untuk mendapatkan kursi di samping jendela kacanya yang lebar namun aku malahan jatuh tertidur setelah mendapatkannya. Setelah terbangun, dengan bingung aku mengikuti kerumunan menuju tembok besar cina. Ketika mengantri tiket masuk sepasang kekasih yang berdiri tepat di depanku saling bercanda hingga menempelkan hidung mereka satu sama lain, tak perduli pada perasaanku, seolah-olah ingin mengolok-olok kesendirianku. Tentunya temboknya besar sekali namun yang paling mengesankan adalah panjangnya yang membuat kita bertanya-tanya bagaimana mereka membangun tembok sepanjang itu di masa lalu. Bagian utara tembok itu cukup ramai dengan kereta gantung yang terlalu jauh dari tempatku masuk atau kereta luncur di samping tembok yang mengarah entah kemana. Aku tidak ingin berjalan terlalu jauh, mengingat pengalaman hari sebelumnya, aku lebih banyak duduk menatap kabut yang menutupi bukit, merasa sendu sendiri. Aku tahu tembok raksasa tempat aku berdiri ketika itu telah berdiri ratusan tahun namun hal itu malah membuatku memikirkan diriku sendiri yang semakin tua dan bertambah gendut yang untuk kesekian kalinya masih gagal dalam percintaan. Aku hanya ingin kamu merobohkan tembok hatiku yang keras kepala seperti yang orang-orang Jerman lakukan pada tembok Berlin di akhir 1989. Aku hanya ingin menjadi hancur lebur di hadapanmu dalam cinta. Aku memutuskan untuk menelusuri bagian selatan tembok itu yang relatif sepi dan menemukan di suatu sudut sepasang kekasih yang berciuman. Rasa dingin menyelimuti hatiku lebih kuat. Aku duduk di salah satu anak tangga tembok cina, terengah-engah, menatap nanar pada untaian tembok itu hingga ke bukit terjauh, memikirkan cinta yang jauh dan tiba-tiba rasa dingin menyelimuti hatiku lebih kuat. Lebih erat.






Senin, 09 Maret 2015

Monumen Cinta

Sebuah perjalanan kereta yang singkat, aku bisa merasakan antisipasi yang menggelitik dadaku. Hampir 3 jam. Setelah kereta berhenti tiba-tiba seorang wanita tiga-puluhan tahun yang berada satu kursi di depanku bertanya, "dari Indonesia ya?"

Aku terkesan pada inisiatifnya. Wajahku memang melayu dan aku suka musik melayu. "Iya."

"Tinggal dimana?"

"Flores," jawabku. Dia tinggal di Bali dan sedang berlibur dengan kekasihnya. Kami saling melempar senyum seperti bertemu kerabat jauh kemudian berpisah di gerbong itu juga.

Aku tersesat dalam perjalanan Delhi menuju Agra. Aku ingin tersesat dalam sebuah kereta menuju kota-kota asing di belahan bumi lain. Terantuk-antuk di kursinya dan bermimpi tentang cinta. Tersesat seperti aku masih tersesat dalam cinta. Tersesat seperti aku tersesat dalam labirin hidup maharumit dan mahaluas. 

Mengikuti saran sebuah situs perjalanan aku menuju pusat informasi turis di stasiun itu untuk memesan tiket tur. Aku berakhir di dalam sebuah bis yang terlalu besar untuk kami bertujuh; tiga turis lokal, dua turis Inggris, satu Dubai, dan aku. Pemandunya orang Agra asli dan seorang muslim, memandu baik dalam bahasa Inggris maupun Hindi. Dia berbicara sambil menggelengkan kepalanya seolah-olah tidak setuju dengan apa yang diutarakannya sendiri.

Pertama, kami mengunjungi Fatehpur Sikri, sebuah kota di luar Agra yang dibangun oleh raja Akbar di abad 15 dimana kami bisa melihat arsitektur kerajan Mughal yang masih terpelihara. Mengagumi gerbang-gerbangnya yang tinggi, halamannya yang luas, warna merah pada temboknya, masjid Jama, dan sebuah makam warna putih yang berdiri mencolok di halamannya. Aku sendiri tidak terlalu mendengarkan sejarah yang disampaikan sang pemandu, mungkin aku sempat mendengarkan namun dengan cepat juga melupakannya seperti melihat wajah ribuan wanita dan bukan kamu.






Kedua, kami mengunjungi benteng Agra. Melihat kemegahan bangunan itu mengingatkanku pada fantasi tentang negeri dongeng dengan putri cantik dan hidup bahagia untuk selama-lamanya. Apa itu sesuatu yang mungkin? Mendekapmu selama-lamanya, mencoba menjadi benteng bagimu untuk melindungimu dari dingin kehidupan?




Sebelum mengunjungi Taj Mahal kami makan siang dan aku kehabisan uang. Aku memilih menu yang kurasa cukup dengan jumlah uang yang tersisa di dompet dan tidak pernah berfikir menambahkan pajak ke dalam hitungan. Setelah menerima tagihan aku tahu aku dalam masalah besar, kemudian terus saja memeriksa setiap celah di dompet lebih teliti walaupun aku tahu itu sia-sia. Pada akhirnya aku meminjam pada salah seorang rekan perjalanan dari negara maju, dengan rasa malu tentunya. Mereka membicarakan skydiving atau kota-kota di Eropa dan Amerika yang belum pernah kukunjungi atau mungkin takkan pernah kukunjungi sementara aku memikirkan bagaimana akan melalui sisa hari itu tanpa sepeserpun uang. Pada hari itu semua ATM menolak kartuku seperti para perempuan keji menolak cintaku. Di akhir tur itu dimana dengan kumis tersimpul senyum pemandu kami mengatakan bahwa tur telah usai dan waktunya kami, para turis, memberikan uang tip, sedikit atau banyak, sesuai keikhlasan hati. Aku terdiam malu, seperti kalah dalam olimpiade atau kontes putri sejagad. Maafkan aku, Indonesia.




Tentu saja Taj Mahal menghibur hatiku yang pilu hari itu. Dingin lantai atau tembok marmernya atau warna putihnya yang berkilauan diterpa sinar matahari siang mengingatkan diriku bahwa aku akan baik-baik saja. Aku menatap kubahnya yang besar, menara-menaranya yang menjulang tinggi, dan langit diatasnya yang terang benderang. Aku iri pada Shah Jahan yang membangun makam luar biasa yang berdiri di hadapanku ini untuk istri ketiganya, Mumtaz Mahal. Bukan karena kekayaan atau kekuasaannya, yang sama sekali tidak kumiliki hari itu, namun karena keberdukaannya yang mendalam, dibutuhkan cinta sebesar apa untuk mendirikan bangunan seindah dan semegah ini hanya untuk mengenang seseorang, sementara aku mudah melupakan. Aku hanya ingin mencintai dalam-dalam dan dicintai dalam-dalam. Siang itu aku hanya bisa berdiri termenung, dibakar matahari habis-habisan, menatap sebuah perahu yang dikayuh perlahan menyibak sungai Yamuna yang mengalir dengan tenang di sisi monumen yang dipersembahkan untuk cinta.




Senin, 27 Oktober 2014

Ziarah Cinta

Aku terkejut pada hawa dinginnya yang mengingatkanku pada rasa sepi, Ruteng kalah dingin. Di sepanjang koridor bandaranya terpampang kata-kata mutiara yang setelah membacanya membuat kesan kota ini penuh kebijaksanaan seperti reputasi Budha.  Aku memasuki sebuah bilik kecil dan dipersilahkan duduk oleh seorang perempuan muda yang manis. Aku tersenyum kikuk pada kamera dan berharap hasil fotonya bagus, bertanya-tanya dalam hati apa wajahku cukup menarik di mata perempuan itu. Aku bergegas menukarkan uangku ke dalam rupee dan ikut dalam barisan untuk memperoleh visa kedatangan. Memandangi langit di luar yang berwarna kelabu aku langsung merasa terhubung oleh kesan melankolisnya. Menghindar dari tawaran para sopir taksi aku tergesa menuju jalan utama seolah-olah aku mengenal kota ini cukup lama dan terpana mendapati kerumunan manusia yang mamadati jalananya yang berdebu. Apa mereka mau menggulingkan pemerintahan? Ketika itu sepertinya bukan waktu yang tepat untuk mencari kebijaksanaan.


Setelah memasuki kota aku terpesona pada warna-warninya seperti kota dalam sebuah dongeng. Kami terus menyusuri jalanan sempit, menyibak kerumunan manusia, dan masuk ke jalan yang lebih sempit lagi. Di sebuah persimpangan jalan sopir taksinya menyuruhku turun dan mengatakan di situlah jalan yang kucari. Dengan ragu aku keluar dari taksi, ditinggalkan seorang diri bersama keterasingan. Aku mondar-mandir cukup lama hingga berhasil menemukan penginapan yang sudah kupesan sebelumnya. Penginapan itu memiliki lima lantai seperti kebayakan penginapan di kota itu yang menjulang tinggi sehingga kita bisa melihat Kathmandu dari lantai paling atas namun bukan Himalaya, pegunungan itu terlalu jauh.

Dinding kamarnya begitu dingin. Lantainya. Kasurnya. Air krannya. Hatiku.

Tidak ada alasan untuk mandi. 

Kemudian listrik padam, memaksaku untuk berkeliaran di jalan-jalan sempit seputaran Thamel sebelum gelap.

Pertama, memasuki sebuah kedai dengan wifi gratis, memesan secangkir teh dan menu apa saja yang ada. Beberapa menit kemudian baru menyadari bahwa listrik mati, begitu pula wifinya. Pemilik kedainya berpakaian rapi dengan rompi, mengenakan topi pelukis, ramah, dan bahasa inggrisnya bagus. Dia mengucapkan selamat datang ke Nepal, menceritakan bahwa pemadaman listrik di kota itu merupakan hal rutin dan mengomentari wajahku seperti orang Nepal dari ras Mongol dan hal itu merupakan sebuah keuntungan, kemungkinan aku bisa lolos memasuki Durbar Square atau landmark-landmark lain secara gratis, yang harus kulakukan hanyalah diam. Dengan sebuah peta dia menunjukkan beberapa tempat yang wajib kukunjungi.

Kedua, membeli penutup kepala berbentuk tikus dan masker untuk melindungi dari debu.

Ketiga, menyewa scooter untuk mengelilingi kota esok hari.

Esoknya aku menjelajahi Kathmandu dan tersesat oleh jalan-jalan satu arahnya. Aku mengikuti kerumunan warga lokal memasuki Durbar Square dan tercengang mendapati waktu yang berhenti di kawasan yang berusia seribu tahun lebih itu. Di salah satu halamannya aku bersyukur bertemu tiga pelancong dari Indonesia yang mengajakku ke Pokhara, sebuah kawasan di Himalaya, namun aku berencana ke India. Mengunjungi Nepal tanpa melihat Himalaya mungkin sebuah kebodohan seperti mengelilingi dunia dan belum juga menemukanmu.  Aku  tahu. Setelah itu aku memasuki sebuah kerajaan di tengah kota yang kini menjadi museum untuk melihat titik-titik tempat raja dan keluarganya dibunuh. Cukup mengerikan namun kesan paling mendalam dari tempat itu hanyalah dua hal; antrian manusia dan bau badan. Aku keluar dari Kathmandu menyusuri jalanan antarkota yang besar dan berdebu. Semakin lama semakin mendaki, semakin dingin. Aku bertanya pada beberapa orang di jalanan dimana letak Bhaktapur karena aku merasa sudah melaju terlalu jauh. Aku harus berbalik arah kata mereka, namun sebuah patung Siwa raksasa yang berdiri di puncak sebuah bukit menarik perhatianku. Jadi aku terus menuju arah patung itu namun malahan terlihat semakin jauh. Seperti dirimu.








Aku merasa di sepenggal mimpi masa lalu, menyusuri lorong-lorong sempit Bhaktapur dan mencermati candi-candinya.  Sinar matahari meruapkan aroma apak dari tempat itu. Aku tersesat, tanpa mencintai dan dicintai. Bergentayangan bersama hantu-hantu tempat itu yang kesepian. Yang harus kulalukan hanyalah duduk diam memandangi orang-orang lalu lalang yang tak perduli pada perasaanku. Adakah kamu di antara kerumunan itu? Tersenyumlah, lambaikan tanganmu, atau paling tidak berikan sebuah pertanda, sekecil apapun itu, biar aku tidak terlalu berputus asa akan dirimu.






Hari terakhir di Kathmandu hujan turun sementara aku makan gumpalan tepung yang berisi sayuran yang terasa panas di mulut di sebuah kedai india, terlalu lapar untuk merasa jijik. Aku memikirkan kesendirian yang lambat laun akan membunuhku. Aku menyesal tidak bisa mengunjungi tempat-tempat yang sudah kurencanakan sebelumnya. Walaupun begitu, ketika menuju bandara melewati jalanan yang dua hari lalu dipadati oleh manusia yang ternyata karena sebuah festival hindu, aku memutuskan untuk mengunjungi Boudhanath. Dalam rintik hujan, seperti peziarah budha aku mengelilingi stupa raksasa itu. Dengan iman serapuh kertas yang basah aku merasa berdosa belum mengunjungi Mekah, namun tetap saja aku berdoa agar segera menemukanmu. Di tempat asing itu dalam basah hujan bulan Februari, sama sekali tidak merasa konyol mengelilingi stupa budha dengan tas punggung yang mulai menyakiti pundak, aku terus berdoa, terus saja, seolah-olah  aku orang paling religius sedunia, semoga dengan tiba-tiba kamu muncul dari kerumunan manusia, memancarkan cinta yang menyilaukan mataku, hingga membuat mataku pedih dan menangis, menangisi takdir yang sengaja mempermaihkan kita berdua, sebegitu lamanya.